Anies Baswedan Tegaskan Keadilan Ekologis sebagai Amanah Moral Bangsa di Pembukaan Rakernas I Gerakan Rakyat 2026
NUSSAFAKTA.COM, Jakarta — Anggota Kehormatan Organisasi Gerakan Rakyat, Anies Baswedan, menegaskan bahwa keadilan ekologis bukan sekadar isu kebijakan, melainkan amanah moral lintas generasi yang harus diperjuangkan secara kolektif dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Anies dalam pidatonya pada hari pertama pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat Tahun 2026 yang berlangsung pada 17–18 Januari 2026 di Ballroom Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu malam (17/1).
Dalam pidatonya, Anies menyoroti dinamika kebijakan lingkungan yang kerap berubah secara mendadak, bahkan seringkali bertentangan antar kementerian, sehingga berdampak langsung pada dunia usaha, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Kondisi ini, menurutnya, menuntut peran aktif masyarakat sipil, organisasi rakyat, akademisi, jurnalis, dan komunitas lingkungan untuk memastikan bahwa arah pembangunan tetap berpihak pada kelestarian alam dan keadilan sosial.
“Gerakan Rakyat tidak boleh hanya menjadi besar secara struktur, tetapi harus kuat secara nilai dan konsistensi. Kita bekerja bersama organisasi lingkungan, akademisi, dan jurnalis agar gerakan ini menjadi gerakan yang berakar, berpengetahuan, dan berdaya dorong,” ujar Anies.
Anies menekankan bahwa perjuangan keadilan ekologis harus dilakukan dengan pendekatan yang cerdas dan konstruktif. Ia menolak anggapan bahwa advokasi lingkungan selalu identik dengan konfrontasi atau sensasi. Menurutnya, perubahan yang berkelanjutan justru lahir dari kerja sama yang strategis, dialog yang terbuka, serta advokasi yang persuasif dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga pelaku usaha yang terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam.
“Keadilan ekologis adalah alasan moral. Kita bisa memperjuangkannya melalui koperasi yang cerdas, kebijakan yang konstruktif, serta advokasi yang membangun dialog. Bukan sekadar menolak, tetapi menawarkan jalan keluar,” tegasnya.
Dalam bagian paling reflektif dari pidatonya, Anies mengingatkan filosofi ekologis yang menjadi dasar perjuangan Gerakan Rakyat. Ia menegaskan bahwa manusia tidak mewarisi bumi dari nenek moyangnya, melainkan meminjamnya dari anak cucu.
“Pertanyaannya adalah, dalam kondisi apa kita akan mengembalikan pinjaman itu? Apakah dengan sungai yang keruh, gunung yang dipangkas, hutan yang tak lagi hijau, air yang tak lagi jernih, dan langit yang penuh asap?” kata Anies.
Ia juga menyinggung peristiwa bencana ekologis yang terjadi di Sumatera sebagai sebuah peringatan keras bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, bencana tersebut harus dimaknai sebagai alarm, bukan sekadar berita sesaat yang berlalu tanpa tindak lanjut.
“Alarm itu hanya berguna kalau kita bangun. Kalau alarm berbunyi tapi kita tetap tidur, maka alarm itu tidak ada artinya. Bencana di Sumatera adalah alarm. Ia hanya bermakna jika setelahnya kita benar-benar melakukan sesuatu,” ujarnya.
Anies menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi memiliki kemewahan untuk berpura-pura tidak tahu atau terus menunda. Setiap hektare hutan yang hilang hari ini, lanjutnya, adalah utang ekologis yang gagal dibayar kepada generasi mendatang.
“Hutan yang hilang hari ini harus dihitung sebagai hutang yang kelak ditagih oleh anak cucu kita,” tegasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Gerakan Rakyat yang telah memilih keadilan ekologis sebagai pesan utama perjuangan pada tahun pertama Rakernas 2026. Menurut Anies, pilihan tersebut bukan karena tren global atau tekanan internasional, melainkan karena Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga.
“Ini bukan soal tren, bukan soal tekanan internasional. Ini tentang tanah air kita. Ini tentang rumah kita. Ini tentang pinjaman yang harus kita kembalikan,” katanya.
Anies menyatakan keyakinannya bahwa Gerakan Rakyat telah mengambil langkah yang tepat dan memiliki potensi besar untuk menggerakkan kesadaran nasional dalam upaya pemulihan hutan dan lingkungan hidup Indonesia.
“Saya percaya Gerakan Rakyat mampu dan Insyaallah akan menggerakkan seluruh rakyat Indonesia untuk mengembalikan hutan Indonesia ke kondisi yang lestari dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Rakernas I Gerakan Rakyat Tahun 2026 ini menjadi momentum konsolidasi nasional sekaligus peneguhan arah perjuangan organisasi yang menempatkan keadilan ekologis sebagai fondasi utama gerakan rakyat menuju Indonesia yang adil, lestari, dan berdaulat atas sumber daya alamnya.
