Catatan Strategis Ir. Sayuti Asyathri

0

NUSSAFAKTA.COM, Jakarta — Ir. Sayuti Asyathri menyoroti dinamika geopolitik global menyusul publikasi perdana citra satelit beresolusi tinggi milik Iran bernama Khayyam. Satelit tersebut merupakan hasil rekayasa para insinyur Iran dan diluncurkan menggunakan roket Soyuz pada tahun 2022. Namun, yang menarik perhatian dunia bukanlah keberhasilan teknologinya semata, melainkan objek pertama yang dipublikasikan: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Vogtle di Georgia, Amerika Serikat.

Menurut Sayuti, pilihan objek tersebut terlalu presisi untuk dianggap sebagai kebetulan. Iran tidak menampilkan citra kota Teheran, hamparan gurun Persia, atau infrastruktur domestik lain, melainkan justru fasilitas strategis milik negara adidaya yang selama ini menjadi penekan utama melalui sanksi dan tekanan militer. Dalam bahasa politik global, langkah ini bukan sekadar pamer kemampuan kamera satelit, melainkan sebuah pesan simbolik yang sangat kuat.

“Ini bukan ancaman eksplisit, tetapi sebuah sinyal strategis. Dalam dunia intelijen, pesan semacam ini sering kali jauh lebih tajam daripada pidato penuh amarah,” ujar Sayuti. Ia menganalogikan situasi tersebut seperti seseorang yang selama ini ditekan, lalu suatu hari cukup menunjukkan catatan kecil berisi daftar hal-hal sensitif yang diketahui—tanpa perlu berteriak, pesan sudah tersampaikan dengan jelas.

Publikasi foto tersebut, lanjutnya, menjadi semakin bermakna setelah fasilitas nuklir Iran sebelumnya diserang puluhan rudal Tomahawk oleh Amerika Serikat. Dalam konteks ini, citra Vogtle seolah menyampaikan pesan implisit bahwa Iran kini juga memiliki “mata dari langit” dan kemampuan pengawasan strategis yang setara. Pesan yang ingin disampaikan bukan tentang agresi, melainkan tentang keseimbangan kemampuan.

Ir. Sayuti mengajak publik internasional untuk membaca peristiwa ini dengan lebih kritis melalui sejumlah pertanyaan mendasar. Pertama, bagaimana mungkin sebuah negara yang selama lebih dari satu dekade berada di bawah tekanan sanksi internasional justru mampu mengembangkan teknologi pengintaian berpresisi tinggi? Kedua, mengapa negara-negara yang paling alergi terhadap pengawasan justru menganggap wajar ketika merekalah yang memegang kamera dan mengawasi pihak lain?

Ketiga, sejak kapan istilah “keamanan global” dimaknai sebagai hak eksklusif satu pihak untuk memegang tongkat kekuasaan dan pengawasan? Keempat, jika stabilitas benar-benar menjadi tujuan bersama, mengapa justru muncul kepanikan ketika negara lain mulai memiliki kemampuan yang setara?

Menurut Sayuti, peristiwa ini mencerminkan perubahan lanskap geopolitik global yang semakin multipolar. Kemampuan teknologi tidak lagi dimonopoli oleh segelintir negara besar. Publikasi citra satelit Khayyam menjadi pengingat bahwa keseimbangan kekuatan kini bergerak ke arah yang lebih kompleks, di mana transparansi, pengawasan, dan teknologi menjadi bahasa baru dalam diplomasi dan konflik internasional.

“Dunia hari ini tidak hanya berbicara dengan senjata dan pidato, tetapi juga dengan data, citra, dan simbol. Siapa yang menguasai itu, ia sedang berbicara dalam bahasa kekuasaan global,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *